Senin, 21 Mei 2012

KAMPUNG NAGA



                Kampung ini secara administratif berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Kampung yang mempunyai luas 1,5 Hektare mempunyai batas wilayah yakni, di sebelah Barat Kampung Naga dibatasi oleh hutan keramat karena di dalam hutan tersebut terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk, dan di sebelah utara dan timur dibatasi oleh Ci Wulan (Kali Wulan) yang sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut.
            Kampung yang masih menjaga keaslian budayanya ini disebut kampung naga karena asal mula katanya yaitu “Nagawir” yang dalam bahasa Indonesianya berarti “Tebing”. Sekeliling kampung ini memang dikelilingi tebing namun disana belum pernah terjadi tanah longsor, banjir saat hujan meskipun kampung tersebut dekat sekali dengan sungai ataupun kekeringan air saat kemarau, ini desebabkan karena warga kampung naga menjaga alamnya. Mereka percaya bahwa jikalau kita bersahabat dan menjaga alam, alampun akan bersahabat dan menjaga kita.
            Kampung naga memiliki 113 bangunan termasuk didalamnya balai dan masjid, dengan jumlah penduduk ± 314 yang terdiri dari 108 Kepala Keluarga (KK). Mata pencaharian warga kampung naga diantaranya bertani, berternak, kuli bangunan, menghasilkan dan menjual kerajinan dari bambu ataupun menjual makanan ringan.
            Kampung naga menganut dua unsur pemerintahan yaitu formal (kepala RT) dan non formal ( kuncen atau pemangku adat). Ketua adat atau disebut kuncen, dalam beberapa hal tunduk kepada ketua RT terutama dalam hal yang menyangkut kehidupan sehari-hari yaitu yang berhubungan dengan sistem pemerintahan desa. Sedangkan ketua RT juga tunduk kepada ketua adatnya di dalam kehidupan yang berhubungan dengan adat istiadat dan kehidupan kerohanian masyarakat.
Ada enam Upacara adat yang dilaksanakan di kampung naga dalam setahunnya, yaitu:
1.            Bulan Muharram yaitu memperingati tahun baru Islam, diadakan pada akhir bulan Muharam
2.             Bulan Rabiul Awal
3.             Jumadil Akhir (pertengahan tahun)
4.            Nisfu Sya’ban (Ruah)
5.             Syawal (setelah lebaran)
6.            Dzul Hijjah- Iedul Adha
Selain kuncen, adapula pemerintah yang termasuk non formal yaitu:
1.      Leber: adalah pemangku adat yang berfungsi sebagai pemandu jenazah dan juru doa ketika ada sesorang yang meninggal dunia.
2.      Punduh: orang yang mengayomi warga kampung naga

Pendidikan
            Dalam mengenyam pendidikan, warga kampung naga belum ada yang mengenyam bangku perkuliahan, mereka mengecap bangku pendidikan hanya samapai SMP bahkan paling tertinggi saja hanya SLTA. Dan banyak yang putus sekolah. Kondisi ini dipengaruhi oleh kurangnya biaya yang mereka miliki.

Moderenisasi dan Globalisasi
            Semua manusia pasti berkembang dan mengalami perubahan begitu juga suku kampung naga, mereka merasakan dampak globalisasi dan moderenisasi, seperti pengamatan saya kemarin banyak warga kampung naga yang sudah memiliki TV, DVD dan alat alat yang dapat menjadikan pekerjaan warga kampung naga lebih cepat dan praktis. Alat-alat TV, DVD dinyalakan dengan aki. Disana listrik tidak ada. Bentuk rumah masyarakat Kampung Naga harus panggung, bahan rumah dari bambu dan kayu. Atap rumah harus dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang, lantai rumah harus terbuat dari bambu atau papan kayu. Rumah harus menghadap kesebelah utara atau ke sebelah selatan dengan memanjang kearah Barat-Timur. Dinding rumah dari bilik atau anyaman bambu dengan anyaman sasag. Rumah tidak boleh dicat, kecuali dikapur atau dimeni. Bahan rumah tidak boleh menggunakan tembok, walaupun mampu membuat rumah tembok atau gedung (gedong). Warga kampung naga tidak takut walaupun ada gempa. Karena bangunan yang mereka bangun sudah seperti manusia yang mempunyai kepala, tangan, badan dan kaki jadi meskipun ada gempa besar mereka tidak takut bangunannya runtuh.
Warga kampung naga memiliki tiga factor kekhawatiran:
1.      Bangunan dari alam
2.      Kesederhanaan
3.      Gotong royong











Sumber tambahan: www.kalangsunda.net

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar