Jumat, 01 Maret 2013

Adaptasi Masyarakat terhadap Perubahan Iklim


Perubahan iklim (climate change) yang kini dialami seluruh lapisan masyarakat telah merubah semua tingkah laku dan kebiasaan-kebiasaan manusia. Perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia dengan definisi menumpuknya gas-gas emisi yang tertahan dan akhirnya menyimpan panas terutama karbon dioksida dari asap kendaraan, industry dan penggundulan hutan ataupun ruang hijau yang berahli fungsi menjadi pemukiman, membuat planet bumi panas dan mengalami iklim yang abnormal. Definisi perubahan iklim itu sendiri lebih merujuk pada berubahnya factor iklim seperti suhu dan hujan. Akhirnya bumi terasa panas dan banyak masyarakat yang memakai Air Conditioner (AC) untuk mendinginkan ruangan demi kenyamanan mereka dalam melakukan tugas, padahal ihwal tersebut dapat menambah daftar panjang masalah perubahan iklim selanjutnya yaitu pemanasan global (global warming) atau meningkatnya suhu bumi dikarenakan emisi panas karbon yang tertahan di atmosfer.
      Apakah anda masih ingat, pelajaran IPS sewaktu Sekolah Dasar yang menyebutkan bahwa bulan oktober - april adalah musim penghujan dan april - oktober adalah kemarau, dan pengetahuan ini jugalah yang menjadi bekal para petani dalam menggarap sawah atau ladangnya, namun semua berbalik. Musim kini mengalami pergeseran. Petani tidak semudah itu mengestimasikan kapan musim penghujan ataupun kemarau maka tak heran kita sering mendengar petani gagal panen karena sawahnya terendam banjir atau malah karena kekeringan. Kasus ini menimbulkan kerugian bagi para petani, bukan hanya petani Indonesia tapi juga seluruh kegiatan pertanian didunia, selanjutnya berpengaruh pula terhadap perekonomian suatu bangsa, kebutuhan yang semakin meningkat namun tak diimbangi oleh produksi yang memadai akhirnya menimbulkan masalah krisis pangan global. 
      Selanjutnya pada pelajaran mengenai angin. Angin darat yang biasanya dimanfaatkan oleh nelayan sebagai menghantar mereka dalam mencari ikan, dan angin laut yang digunakan ketika ingin kembali pulang kedaratan setelah mencari ikan semalaman. Namun hembusan angin yang mengalami perubahan membuat para nelayan merubah jadwal pekerjaan mereka, tak hanya itu kuantitas ikan-ikan diperairan pun berkurang dikarenakan tidak berkembangbiaknya plankton sebagai mata rantai pertama dalam siklus rantai makanan. Suhu yang semakin meningkat (memanas) yang dibuktikan dengan naiknya permukaan air laut yang disebabkan oleh mencairnya es di kutub, bayangkan permukaan air laut telah meningkat 10 sampai 20 Centimeter selama 100 tahun terakhir dan diprediksikan bahwa wilayah Jakarta akan tenggelam dalam kurun 2035-2050. Karena Jakarta termasuk dataran rendah, ditambah banyaknya gedung-gedung pencakar langit yang harus ditopang tanah, serta penduduk Jakarta yang semakin berlomba-lomba dalam memperebutkan air, menambah tinggi penyebab menipisnya lapisan alami tanah. Tidak hanya Jakarta di Negara Indonesia, namun kota-kota lain yang diprediksi akan tenggelam diantaranya Bangkok di Thailand, Ho Chi Minh City di Vietnam, Shanghai di Cina, dan Mumbai di India.
      Perubahan iklim juga sangat berpengaruh dalam peningkatan resiko penyakit dan koleksi penyakit-penyakit baru, perubahan iklim yang juga kita sebut sebagai cuaca ekstrim memicu beragam penyakit secara bersamaan lebih cepat. Virus dan bakteri yang menyebar dan terus berkembang disaat panas dan hujan ditambah angin yang mempercepat penyebaran virus dan bakteri berpindah dari satu manusia ke manusia lain.
Tak hanya memengaruhi manusia dibumi, namun makhluk hidup lainnya seperti hewan juga merasakan bahwa iklim berubah, banyak berita-berita yang menginformasikan monyet masuk ke pemukiman dan merusak rumah warga, adapula gajah yang mencari makanan hingga pemukiman warga. Hal ini membuktikan bahwa hewan juga mencari tempat yang menurut mereka baik sebagai caranya beradaptasi dengan perubahan iklim, dapat diprediksikan pula bahwa spesies hewan didunia menuju kepunahan ditahun 2050.
Manusia dalam kehidupannya haruslah bisa beradaptasi dengan lingkungan yang ia tempati, layaknya masalah kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM), masyarakat tetap harus mengikuti kenaikannya walaupun sebenarnya mereka tidak suka. Hal ini ditujukkan semata-mata agar manusia dapat bertahan (survive). Dan berikut usaha manusia yang dianggap solutif dalam menghadapi perubahan iklim:
1. Ramainya pengusungan “Go green, Recycle dan energy ramah lingkungan”
Penghijauan, memakai barang yang mudah terurai (degradable ), menggunakan energy ramah lingkungan yang dimaksudkan agar tidak mencemari lingkungan. Pemerintah yang kini memikirkan lahan hijau atau taman kota sebagai ruang terbuka hijau. Bahkan ada aksi bike to work , car free day dalam mengurangi suhu panas bumi dan polutan akibat dari pembakaran bahan bakar yang kemudian menghasilkan emisi yang mengikat panas, ini semua sedang ramai-ramainya dicanangkan demi memulihkan iklim yang sudah berubah, dan mengusahakan agar bumi tetap bisa dihuni oleh anak cucu manusia selanjutnya alias pembangunan berkelanjutan yakni pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
2. Masyarakat yang sadar akan kebersihan dan mengetahui arti penting vitamin
Banyak masyarakat yang kini mengerti bahwa pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sanitasi. Hal ini membuktikan bahwa semakin banyak individu yang memiliki intelektual tinggi. Mereka sedemikian rupa menjaga kekebalan tubuh dengan mengkonsumsi makanan yang sehat dan bernutrisi bahkan menambahkan multivitamin sebagai suplemen makanan mereka yang dipercaya mampu meningkatkan antibody dalam tubuh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar